"Everyday is a brand new start"

25 December 2013

The Best Theraphy


Dia merasa hairan sahabat yang lainnya tidak membawa tamar untuk berbuka.
Sahabat-sahabat berkata : “Kami tak fikir kami akan berbuka puasa, kami fikir kami akan perang dan mati syahid dan berbuka di syurga Allah azza wajalla”
Dia ingat dialah yang berfikir paling ke hadapan, padahal sahabat jauh lebih ke hadapan memikirkan nikmat syurga kerana mati syahid.
Apabila hati terasa sempit dengan dunia. Di saat kita sedih kerana dunia tak berpihak pada kita. Dan kita hanya mampu melihat dan mendengar kenikmatan yang orang lain rasakan.
Bayangkanlah nikmat syurga Allah, walaupun yang kita bayangkan masih bukan syurga kerana syurga itu jauh lebih indah.
“Ya Allah ceritakan aku tentang syurga agar diriku tak terlalu sedih dan mengejar dunia.”
Subhanallah. Membaca ayat-ayat terakhir surah Al-Ankabut benar-benar memberi inspirasi dan ketenangan.
57. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.
58. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh, sungguh, mereka akan Kami tempatkan pada tempat-tempat yang tinggi (di dalam syurga), yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang yang berbuat kebajikan,
59. (iaitu) orang-orang yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.
Dan, begitulah cerita Allah padaku. KataNya lagi;
64. Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.  
Ketika manusia membayangkan nikmat dan keindahan yang mereka inginkan dari dunia. Pandanglah jauh lebih ke hadapan pada nikmat yang kekal abadi, nikmat syurga dan bertemu Allah di sana.
Justeru, kita tidak akan terlalu sedih dengan dunia.
Catatan ini untuk generasi.
Share:

24 December 2013

Memegang Keyakinan





Temanggung, Jawa Tengah | 24 Desember 2013

Tulisan Kurniawan Gunadi

Saat ini, jika kita meyakini sesuatu. Maka peganglah itu kuat-kuat. Jadikan apa yang kita yakini menjelma menjadi pikiran dan perbuatan. Tidak perlu dengan sengaja menyebarkan keyakinan kita agar menjadi keyakinan orang lain. Biarkanlah orang lain memilih apa yang dia yakini.

Itulah prinsip yang saya ambil. Yang agama yang menjadi keyakinan saya ajarkan.  Keyakinan saya mengajarkan bahwa tidak boleh saya memaksakan orang lain memeluk keyakinan yang sama dengan saya. Sebab keyakinan itu sendiri bukan paksaan.

Dalam hal lain, ini berlaku. Ketika saya menyakini bahwa saya memilih tidak pacaran. Maka saya menjadikannya sebagai pikiran dan perbuatan. Seandainya kamu memilih untuk melakukannya. Itu tentu pilihanmu dan kita sama-sama tahu apa konsekuensinya. Kita semua cukup dewasa untuk memilih sikap.

Namun, dalam sisi lain. Keyakinan saya pun mengajarkan untuk menyebarluaskan  (dakwah) agar kebaikan senantiasa mengalir. Lalu jalan apa yang saya pilih, tentu saja tidak ada dakwah yang jauh-jauh lebih berkesan daripada memberikan teladan. Menjadi contoh.

Karena telalu banyak orang sibuk bicara di mimbar tapi di luar itu, tindakannya bertolak-belakang. Maka saya memilih untuk berusaha berdakwah dengan tindakan. Dengan saya tidak pacaran. Dengan saya tidak ini dan itu. Dengan saya memilih ini dan itu. Biarkan orang lain menilai itu baik atau buruk. Dan biarkan orang lain memilih untuk mengikutinya atau tidak.

Saya menulis. Itu adalah cara saya untuk menjaga diri. Sebab saya sama saja seperti manusia pada umumnya. Tidak sempurna, banyak khilafnya. Saya menulis agar ada - dan ada saja - orang yang selalu mengatakan kepada saya ketika saya melenceng. “Nih, kamu pernah nulis begini”.

Saya berteman dengan teman-teman yang memiliki keyakinan berbeda. Keyakinannya tentang rokok. Keyakinannya tentang hubungan lawan jenis. Keyakinannya tentang sekolah. Keyakinannya tentang keluarga dan pernikahan. Dan saya tetap berada pada keyakinan saya sendiri. 

Tidak lagi saya mengatakan sesuatu jika tidak saya lakukan. Keyakinan ini saya pilih dengan kesadaran penuh dan sadar pula pada segala konsekuensinya. Orang lain mungkin akan memaki-maki mengapa saya seperti ini dan itu. Berkomentar mengapa saya memilih ini dan itu. Dan saya memilih untuk tuli.

Tidak perlu kita bersusah payah menyebarkan prinsip/keyakinan kita kepada orang lain. Pegang itu dan amalkan dengan sebaik-baiknya. Orang lain akan melihat dari apa yang kita lakukan. Dan kita akan selalu diuji oleh apa yang telah kita katakan.

Biarkan orang lain memilih jalannya. Kita hanyalah perantara. Bukan sebagai pendoktrin. Biarkan orang lain melihat bagaimana cara hidup kita. Dan saling menghargailah.

Saya memilih menyebarkan semua dan apapun yang menjadi keyakinan saya melalui perbuatan. Sekiranya saya melenceng. Saya selalu menulis, membacanya kembali. Mengingatkan diri sendiri. Saya menulis untuk diri saya sendiri. Jika ada orang lain yang ikut membaca dan terpengaruh. Itu diluar kendali keinginan saya.

Silakan ambil apapun yang baik. Dan saya akan tetap menjalankan apa yang telah menjadi keyakinan saya. Memegangnya erat-erat. Mungkin berat, namun selalu saja dalam perjalanan ini, saya menemukan teman-teman yang memiliki keyakinan sama. Hal itu sangat berharga. Hal itu membuat saya semakin yakin, bahwa saya tidak sendirian.

Selamat memegang keyakinan. Apapun keyakinanmu, sadarilah bahwa kamu tidak asal memilih. Pahamilah segala konsekuensi atas pilihan keyakinan dalam hidupmu. Dan saling menghargailah, sebagaimana kamu ingin dihargai atas keyakinanmu.

Share:

IIUM : Garden of Friends

Seingat saya di awal sem saya pernah kerisauan: Ya Allah, ada ke kawan aku nanti di CELPAD? 
Alhamdulillah, Allah beri kawan-kawan yang baik untuk saya.
"Allah beri Fan untuk akak” Haneefan; teman dari Thailand. Orang pertama yang duduk di sebelah saya dalam kelas ditakdirkan Allah menjadi teman setia sepanjang sem 1 di UIA.
Syukur, kami banyak persamaan. Kami sama-sama ‘pendiam’ di kelas. Ya, kalau antara saya dan dia, Haneefan lagi pendiam dan pemalu orangnya.
Izza; Alumni KISAS yang sangat jelas KISASian nya. Di sisi Izza, perbualan berkisar masalah ummah. Saya akan jadi paling banyak gelak dan paling serius dengan anak kecil itu.
Saya belajar banyak perkara dari rakan-rakan foreigner. Sister Mona memberi saya kekuatan untuk bersungguh dalam belajar. Saya cukup kagum dengan sister dari Libya itu. Sudah punya 2 orang anak tapi masih struggle belajar. Saya akan rindu wajah berpeluh-peluh sister Mona!
Hiba; gadis manis dari Syria. Saya tahu kesukaannya. Wajahnya penuh kegembiraan dan semangat bila kami bercerita tentang Syria, negara yang kini bergolak. Kebanyakan rakan-rakan dari Negara Arab, semangat dan beraninya luar biasa. Keadaan ini jelas ketika presentationspeaking dan apabila diminta memberi pendapat.
Kelas English dan bahasa Arab. Ada bezanya. Kelas English lebih sempoi berbanding kelas Arab yang suasana belajarnya agak serius, barangkali kerana kebanyakan mereka lebih tua dari saya.
Saya senang dengan kelas saya. Saya rasa, inilah pertama kali saya bercakap bahasa Arab paling banyak dengan ‘grammar’ yang lebih baik. Hehe inshaAllah harapnya.
Saya dipertemukan dengan Mila Azkiya. Seorang pelajar master dari Indonesia. Kami berkongsi minat dan visi yang sama. Bertahun-tahun saya membaca buku Indonesia, jadi saya tak punya masalah berbahasa Indonesia dengan Mila. Semangat ustazah Yoyoh Yusro dalam jiwanya membara. Moga-moga saya juga terkena auranya.
Begitu aturan Allah cukup indah. Telah tiba hujung sem bermakna telah tiba saat berpisah.
Lumrah di CELPAD, pelajarnya akan EXIT atau ke level yang lebih tinggi.
Ramai teman yang takut untuk belajar di UIA kerana CELPAD. CELPAD tidaklah sedahsyat yang difikirkan. Ia adalah muqaddimah sebelum belajar di kuliyyah. Tidak ada cepat atau lambat dalam belajar, kerana untuk seseorang menjadi faqih sememangnya memerlukan tempoh yang lama. Tak ada kerugian jika kita belajar menggunakan peluang yang Allah beri sebaik mungkin.
Buat teman-teman CELPAD, semoga kita sama-sama beroleh kejayaan yang Allah redha. 
“… dan Allah lah yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Anfaal: 63)
Catatan ini untuk generasi.
Share:

22 December 2013

Am I really a writer?

"Kenapa awak suka menulis?"    "Sebab saya tak suka bercakap"
Saya memang tak suka bercakap. Lagi-lagi bila audiensnya ramai. Saya akan sedaya upaya cuba mengelat. Saya kira ramai juga teman-teman suka melakukan ini, jadi hal ini bukannya suatu yang luar biasa. Huu.
Disebabkan rasa berdosa kerana tak menyampaikan, saya menulis. 
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan HIKMAH dan pengajaran yang baik. Berdiskusilah dengan mereka dengan apa yang paling optimum. Sesungguhnya Tuhanmu itulah yang sebenar-benarnya mengetahui, siapakah yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia juga yang sebenar-benarnya mengetahui siapakah golongan yang beroleh petunjuk” (An-Nahl: 125)
Saya mula belajar menulis benda-benda yang remeh di pandangan orang. Kata ustaz Hasrizal ; Jangan sesekali pandang remeh pada benda-benda yang kecil. Biasanya, benda yang biasa-biasa akan menjadi luar biasa bergantung pada sudut pandang kita!
Saya kagum dengan ulama’ terdahulu yang boleh menulis begitu banyak. Ibnu Jauzi, bila lembaran-lembaran buku yang ditulis oleh beliau dikumpulkan, lalu dibandingkan dengan umur beliau, rata-rata beliau menulis dalam sehari sebanyak sembilan buah buku seukuran buku tulis. Subhanallah hebat!
Saya tahu saya tak sehebat dan semampu itu. Jadi saya bermula menulis blog dan menjadi editor tulisan Dr Zaharuddin Abdul Rahman dan journal Dr Maszlee Malik. Ini mewajibkan saya membaca keseluruhan tulisan kedua-dua insan yang saya kagumi ini.
Menulis bagi saya, suatu kerehatan. Menulis memberi inspirasi kepada diri sendiri. Dan saya sangat kagum dengan penulis, apalagi penulis muda yang menulis hal-hal yang besar!
"Bila Ju nak tulis buku?"
Saya punya impian itu jauh sejak saya di bangku sekolah. Tapi, saya nak tulis buku apa sebenarnya?
Barangkali sebab saya tak berusaha dengan sungguh-sungguh, jadi Allah belum memberinya.
Semoga impian ini suatu hari akan jadi kenyataan. Biar tulisan jadi saham di akhirat. Amin.
Share:

21 December 2013

Asal usul?


Usrah Khas UZAR yang pertama
"Ju ambik course apa, syahirah ambik course apa?“

"Saya ambik Usul Fiqh, Syahirah ambik Usuluddin"
"Apa beza Usul Fiqh dengan Usuluddin?"
"Usul Fiqh tu ilmu tentang kaedah-kaedah atau dalil umum untuk keluarkan hukum. Usuluddin pulak ilmu tentang dasar agama contohnya akidah dan tauhid. Macam jugak ilmu Teologi"
Kak Shikin pening.
"Waa…kalau macam tu akak ambik ilmu Asal Usul lah.." Hehee~
"Ya Allah, faqihkanlah kami dalam agama, ajarkanlah kami ilmu ta’wil (tafsir) dan tunjukkanlah kami jalan yang lurus
Share:

20 December 2013

Mak, Ammar nak jadi apa sebenarnya?


Menghidupkan kembali agama bererti menghidupkan suatu bangsa. Hidupnya agama bererti cahaya kehidupan.” (Badiuzzaman Said Nursi)
Ketika Ammar diberi pilihan antara berjuang di Syria dan sambung menuntut ilmu. Ammar akhirnya memilih menuntut ilmu.
Di hari pertama beliau ingin mengajar Risalah An Nur tulisan said Badiuzzaman an Nursi,
Beliau dipanggil Allah.
Aku kira beliau syahid, walaupun bukan sebagai pejuang di medan perang tapi di medan mengajar ilmu Allah.
"Mak, Ammar nak jadi apa sebenarnya nanti?" Puan Azlina sendiri tak tahu jawapan.
Allah telah merancang segala-galanya. Ammar telah jadi as Syahid.
Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam syurga yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.” (Muhammad: 4-6).
Bidadari pasti tersenyum menjemputmu.
Tulisan ini buat generasi, agar kisah ini tidak mati.
Share:

18 December 2013

Cukuplah itu rahsianya


“Syaratnya dirimu harus sedar dan bersedia bahawa suamimu milik umat. Bahawa perkahwinan ini tujuannya juga untuk umat."

Jika ingin menjadi isteri seorang pejuang umat, bersedialah untuk melakukan PENGORBANAN dari segi wang ringgit, masa, perasaan, keinginan peribadi.....

Belajarlah untuk berdikari....

Belajarlah untuk tidak tewas dengan perasaan2 berkecil hati, sedih, kecewa, marah.....

Belajarlah berlapang dada dengan perbezaan2 yang tidak secocok dengan naluri & kehendak kita
Itu rahsianya, cukuplah.
Puan Azlina, ibu kepada allahyarham Ammar tersenyum. Tenang.
Anak mereka benar-benar menjadi milik umat. Aura cerita hidup Ammar  mengharum ke serata dunia. Sehingga kematiannya benar-benar jadi motivasi buat kita.
Rahsia itu bermula dari asasnya.
***********************************************
Datang datanglah wahai syahid,
Dambaan Mujahid.
Alfatihah untuk si peniup ney, Ammar!
Share:

14 December 2013

Anakmu sudah besar

Mak
“Sedapnya aiskrim..” Mata khusyuk memandang aiskrim kawan di depan.
Pappp..! satu pukulan kecil hinggap di tangan.
Mak memandang tajam.. “Buleh pulop tengah ngaji tengok aiskrim!”
Huh nak menangis waktu tu kena rotan. Padahal takdelah kuat sangat mak pukul.
Masa tu kecik lagi, baca Quran pun sebab mak suruh. Hihi
Abah
Sejak sekolah sampai universiti, setiap kali abah hantar ke stesen bas,
Satu yang aku sangat terharu dengan abah.
Abah akan tunggu sampai bas pergi hilang depan mata.
Dan, kalau balik naik bas abah akan telefon berkali-kali sampai tak terangkat.
Itulah abah. Risaunya pada anak perempuan, luar biasa..
Anak
Anak yang dulunya kuat merajuk,
Anak yang dulunya kuat menangis sebab takut guruh,
Dah besar.
Dan abah mak makin berumur.
Mungkin aku dulu yang kan pergi, mungkin juga mereka. Yang pasti, kami tak banyak masa.
Semoga Allah beri peluang aku balas jasa mereka.
Ya Allah, bahagiakan mereka.
Amin.
Share:

08 December 2013

Cinta yang Membina



“Bahwa cinta adalah persoalan berusaha untuk mencintai. Bahwa cinta bknlah gejolak hati yg dtg sendiri melihat paras ayu atau janggut rapi. Bahwa sbgmana cinta kpd Allah yg tak serta merta mengisi hati kita. Karena cinta mmg harus diupayakan. Karena cinta adalah kata kerja. Lakukanlah kerja jiwa & raga untuk mencintainya. Kerjakan cinta yg ku-maksud agar kau temukan cinta yg kau-maksudkan. Karena cinta adalah kata kerja. Cinta-mata airnya adlh niat baik dr hati yg tulus. Alirannya adalah kerja yg terus menerus.”- Salim a.Fillah
Share:

CELPAD & Bahasa

“Ya Allah, seandainya hal ini baik bagiku dan jalan untukku faqih dalam ilmuMu, maka aku redha jika Engkau berikan untukku”


Dan, Allah memberikan ia untukku. Berada di CELPAD untuk kedua-dua subjek. English & Arabic. 
Bermulalah jadual ku yang padat seharian. Orang lain memandang ia sebagai bebanan, tapi tidak bagiku. Untukku, ini permulaan untuk aku memandang serius kepada bahasa.
Kata UZAR, dunia Islam terlalu kurang pendakwah dan ilmuan Syariah yang mampu menulis dan bertutur di dalam bahasa Inggeris. Untuk memperoleh pahala yang meluas di seluruh dunia, bahasa Inggeris dan Arab diperlukan.
Di sini, aku jatuh cinta dengan kitab-kitab Arab dan buku Islamik berbahasa Inggeris, biarpun kadang-kadang pembacaan tak berjaya sepenuhnya difahamkan kerana lemahnya penguasaan bahasa. Di sini, aku terpaksa bertutur bahasa Inggeris kerana teman-teman kebanyakannya dari luar negara. Kadang-kadang, tergelak sendiri. Lucu.
Diriku percaya dan yakin, keberadaanku di CELPAD tak pernah sia-sia kerana para ulama seperti Imam Syafie, Ibnul Qayyim dan Imam Syaukani memberikan perhatian yang besar dalam menekuni bahasa khususnya Bahasa Arab, seperti ilmu syarie lainnya. Sebab bahasa Arab adalah jalan untuk memahami ilmu syariat. 
Umar Al-Khattab pula mengatakan: “Pelajarilah bahasa Arab, sebab ia mampu menguatkan akal dan menambah kehormatan”. (Tarikh Umar bin Khathab, karya Ibnul Jauzi, 225)
Ya, diriku agak terlambat untuk memulakan pengajian Usul Fiqh, tapi aku yakin aku tak pernah terlewat untuk menjadi Faqih. Allah mahu mentarbiyah diriku bermula dari asas.
Lalu, jika kalian ingin mengorak langkah, oraklah langkah dengan perancangan dan bukan secara spontan TANPA HALA TUJU JELAS.
Kata Ibnu A’toi’llah as-Sakandari: ” Sesiapa yang permulaannya dengan api yang panas membakar, maka pengakhirannya adalah dengan cahaya yang menerangi”.
Di sana, tiada jalan yang mudah, hanya yang sabarkan terus melangkah. Sabarlah, kita pasti berjaya!
Share:

UmmuZayd

UmmuZayd
Inspirasi dari surah Al-Ahzab ayat 37
Zayd; nama yang pernah bersatu dengan patah perkataan Al-Quran
Zayd; nama yang terus kekal dituturkan makhluk yang membaca Al-Quran
Aku ingin menjadi Ummu Zayd
Ibu kepada insan-insan mulia ahlul Quran

Amin Ya Rabb

Popular Posts

"umi, kami selongkar dunia maya
dan temukan catatan umi di sana"

-Anak-Anak UmmuZayd-

"Cita-cita ku adalah menginspirasi jutaan orang
meski mereka tak mengenalku,
biarlah Allah yang menilai kerja-kerjaku"

Categories

Blog Archive